PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Standard

KIAT-KIAT MENGHADAPI ORANG YANG MARAH

Marah adalah suatu sifat yang terdapat pada diri setiap manusia. Tiada manusia yang tidak mempunyai sifat marah, yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah bagaimana cara meredam marah itu sendiri. Marah itu wajar tetapi pemarah itu kurang wajar karena marah sendiri sesungguhnya bisa dikendalikan

Beruntunglah bagi orang yang dapat menahan amarahnya, dan orang itu mendapatkan gelar sebagai orang yang sabar. Tetapi alangkah ruginya jika seseorang tidak kuasa atau dikuasai oleh amarahnya, tentu saja akan berdampak buruk bagi dirinya maupun orang lain.

Orang yang sering marah akan membuat hipotalamus mengeluarkan hormon stres, baik yang adrenalin maupun non-adrenalin. Pengeluaran hormon ini akan memicu peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan penebalan dinding arteri dan pembentukan bekuan dalam pembuluh darah, serta aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).

Pembuluh darah terutama di arteri leher (carotid) yang mengalami penebalan akan menyempit sehingga memicu berbagai masalah jantung dan pembuluh darah.

Penebalan arteri semacam itu biasanya menyertai proses penuaan. Namun menurut penelitian di US National Institute of Aging, orang dengan sifat pemarah cenderung untuk mengalaminya di usia lebih muda.

Peningkatan risiko yang dialami cukup signifikan, yakni mencapai 40 persen dibandingkan orang dengan kepribadian yang menyenangkan. Angka itu didapat setelah disesuaikan dengan faktor risiko yang lain, misalnya merokok.

Kecenderungan lain yang teramati adalah bahwa penebalan arteri sebagai dampak dari sifat pemarah lebih banyak dialami oleh wanita. Umumnya penebalan arteri lebih banyak dialami pria, namun wanita pemarah punya risiko yang sama dengan pria yang menyenangkan.

Penelitian ini melibatkan sedikitnya 5.600 partisipan dari 4 desa di wilayah Sardinia, Italia. Para peneliti mengamati dan membuat perbandingan antara kondisi emosional dan kesehatan para partisipan selama kurun waktu 3 tahun.

Menurut peneliti, pola hubungan antara emosi dengan kesehatan pembuluh darah ini ini berlaku secara umum di seluruh dunia. Beberapa penelitian serupa dengan skala lebih kecil telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang konsisten.

Dr David L Katz, direktur Prevention Research Center at Yale University School of Medicine menanggapi positif penelitian ini. Menurutnya, sifat pemarah merupakan faktor risiko serangan jantung yang bisa disejajarkan dengan hipertensi.

“Perkembangan ilmu psycho-immunology mengungkap bahwa status emosional dapat mempengaruhi kondisi hormonal dan syaraf, yang seluruhnya terkait dengan fungsi kekebalan tubuh,” ungkap Dr David.

Adapun akibat yang ditimbulkan oleh marah antara lain:

MARAH MERUPAKAN KEBIASAAN YANG DILAKUKAN SEBAGIAN ORANG

MARAH MERUPAKAN KEBIASAAN YANG DILAKUKAN SEBAGIAN ORANG

1. Hipertensi
Hipertensi disebut juga dengan darah tinggi, darah tinggi sering terjadi karena kemarahan tingkat tinggi. Hipertensi dapat menyebabkan stroke, serangan jantung dan gagal ginjal. Wah, bahaya sekali penyakit-penyakit seperti itu, akibat dari marah yang akan bercabang pada penyakit-penyakit yang membahayakan.

2. Lemahnya Tubuh
Marah yang dapat membuat otot menjadi tegang, akan menimbulkan kelelahan tubuh. Marah semenit saja seperti 4 jam bekerja. Karena akibat dari marah, kelelahan akan terjadi dan menimbulkan metabolisme tubuh menurun. Jika metabolisme menurun, tentu saja penyakit dari luar akan mudah memasuki tubuh.

3. Lemah Otak
Marah selain berakibat hipertensi dan lemahnya tubuh, juga dapat melemahkan otak yang menyebabkan fungsi dari otak akan menurun drastis. Mengapa hal itu terjadi? Ketika marah, darah dalam otak berkurang, darah lebih banyak mengalir pada otot-otot besar, sehingga darah sebagai suatu yang penting dalam otak akan berkurang. Darah yang sebagai asupan oksigen ke otak akan berkurang, sehingga orang yang marah tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat mengontrol sebuah tindakan, dan tindakan yang tak terkontrol akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Hiduplah sehat dengan tidak marah. Sabar, walau menyakitkan akan berdampak lebih indah daripada mendahulukan marah. Orang pemarah biasanya karena ada sesuatu yang tidak puas dengan keinginannya atau targetnya. Sesekali marah justru baik, tapi jika sedikit-sedikit ketidaksempurnaan sehari-hari ditanggapi dengan marah maka jantung bisa jadi taruhannya. [Zee]

Sifat suka marah atau pemarah ternyata tidak muncul begitu saja. Penelitian baru dari Universitas Cambridge menunjukkan bahwa kemarahan dipengaruhi bahkan bisa dibilang dikendalikan oleh fluktuasi atau naik-turunnya tingkat serotonin dalam otak.

Penelitian yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Biological Psychiatry pada 15 September itu mengungkap bahwa perubahan kadar serotonin dapat terjadi pada individu-individu yang stres atau belum makan. Studi terbaru memeriksa aktivitas daerah otak yang berbeda, dan hubungan mereka dengan pengaturan amarah.

“Kami sudah mengenal selama beberapa dekade bahwa serotonin merupakan kunci dalam memunculkan agresi (amarah, perbuatan kasar), namun baru-baru ini kami telah memiliki teknologi untuk melihat ke dalam otak, dan memeriksa bagaimana serotonin membantu kita dalam mengatur impuls emosional kita,” kata Dr Molly Crockett, rekan penulis pertama studi tersebut, seperti dikutip dari TheEpochTimes.Com.

Menurut Molly, dengan menggabungkan tradisi panjang dalam penelitian dengan teknologi baru, tim Cambridge berhasil mengungkap mekanisme bagaimana serotonin dapat mempengaruhi agresi.

Para peneliti melihat efek dari acute tryptophan depletion (ATD-metode untuk mempelajari tindakan antidepresan) pada 30 individu sehat. Sebuah kuesioner tentang kepribadian menunjukkan individu mana saja yang cenderung berperilaku agresif.

Dalam penelitian tersebut, para peserta penelitian disuruh berdiet, dengan mengonsumsi sedikit tryptophan, asam amino yang biasanya digunakan untuk diet. Sehingga perkembangan serotonin terhenti pada satu hari. Kemudian diikuti oleh jumlah normal tryptophan dalam campuran yang sama pada hari lain, sehingga serotonin mengalami efek plasebo (pemulihan diri).

Setelah itu tim mengukur respon otak terhadap gambar wajah yang sedang marah, sedih, dan netral, menggunakan pencitraan magnetik resonansi fungsional (fMRI).

Ketika kadar serotonin otak lebih rendah, peserta menunjukkan gejala lemahnya komunikasi antara daerah korteks prefrontal otak dan amigdala, yaitu sistem limbik otak yang mengatur emosi.

Temuan menunjukkan bahwa ketika tingkat serotonin rendah, korteks prefrontal kurang mampu mengendalikan respon kemarahan yang dihasilkan oleh amigdala (saraf otak yang berperan dalam melakukan pengolahan terhadap reaksi emosi).

“Meskipun hasil penelitian ini berasal dari relawan kesehatan, namun hasil ini masih relevan untuk berbagai gangguan kejiwaan dimana kekerasan merupakan masalah yang umum. Kami berharap bahwa penelitian kami akan mengarah untuk meningkatkan diagnostik serta perawatan yang lebih baik untuk kondisi seperti ini,” ujar Dr Luca Passamonti dari Consiglio Nazionale delle Ricerche (CNR).(et/bst/war)

Cara Menghilangkan Sifat Emosional / Gampang Marah

Cara Menghilangkan Sifat Emosional / Gampang Marah,

Sifat emosional atau gampang marah ternyata bisa diubah, demikian pendapat para peneliti kesehatan mental. Pada salah satu penelitian berhasil ditemukan bahwa risiko serangan jantung bisa ditekan dengan mengurangi rasa marah. Bagaimana cara mengurangi keinginan untuk marah supaya tidak lekas jantungan?

  1. Rajin berolahraga secara teratur dapat mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati sehingga bisa mengatasi naik turunnya emosi. Yoga dan olahraga yang membuat rileks efektif untuk mengatasi sifat mudah marah.
  2. Tanyakan kepada diri sendiri apakah dengan marah-marah akan bermanfaat juga buat orang-orang di sekitar Anda. Misalnya, tanyakan “Apakah saya dapat mengontrol situasi ini? Dapatkah saya mengubahnya menjadi lebih baik dengan marah-marah?”
  3. Atasi ketegangan dengan mengambil beberapa napas dalam dan membuat otot-otot rileks. Bisa juga dengan mendengarkan musik lembut atau memvisualkan diri sendiri tengah berlibur di tempat favorit.
  4. Periksa lagi bagaimana cara Anda berkomunikasi dengan orang lain. Banyak situasi yang menyulut kemarahan melibatkan orang lain. Saat diskusi menjadi panas dan membuat marah, hitung sampai 10 sebelum bicara. Ambil napas terlebih dahulu. Dengarkan lawan bicara secara seksama.
  5. Coba sisipkan humor karena terbukti efektif meredakan kemarahan.
  6. Cari alternatif, apakah Anda hanya marah-marah pada situasi tertentu? Selama beberapa minggu, buat catatan kapan dan di mana Anda biasa marah-marah. Kemudian lihat apakah ada kecenderungan tertentu yang memicu kemarahan.
  7. Pertimbangkan konseling bila perlu. Ceritakan pada dokter soal kebiasaan Anda ini. Dokter itu akan merujukkan Anda pada orang yang ahli.

Semoga tips-tips menghilangkan marah diatas berguna bagi kita semua. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s